• Krajan RT 02 RW 02 desa Karanggedang
  • desa_karanggedang@karanggedang-purworejo.desa.id
INFO
  • Selamat Datang Di Website Desa Karanggedan, Bruno

Parimin: “Produsen” Pupuk Cair Organik Desa Karanggedang

17 Agustus 2019 Administrator Berita Desa

 

Menggunakan pupuk organik kuncinya adalah kesabaran. Hal ini yang dilakukan oleh seorang warga desa Karanggedang, tepatnya di dusun Krajan. Parimin namanya, pria kelahiran Karanggedang pada 1978 ini sejak 2014 sudah beralih menggunakan pupuk cair organik dengan bahan baku urin sapi. Sebenarnya, 2010 ia sudah menggunakan urin sapi sebagai pupuk. Hanya saja, belum diolah melalui fermentasi sehingga hanya digunakan untuk tanaman kayu-kayuan. Jika untuk pupuk padi, maka tanaman akan layu karena panas. Namun dengan fermentasi sekitar tiga bulan, urin sudah tidak panas dan tidak beracun.

 

Pertama kali ia mempelajari cara pembuatannya ialah saat Kelompok Tani Sido Waras mendapat fasilitas pemerintah untuk mengikuti pelatihan pembuatan pupuk cair dari Balai Penyuluhan Lapangan (BPL) di kecamatan Bruno. Keberlanjutan hal itu, karena memiliki ternak sapi, Parimin mendapat bantuan fasilitas untuk pengolahan urin sapi menjadi pupuk cair organik. Diantaranya ialah bantuan pengadaan alat penyaringan, kran besar dan bak tampung utama. Sejak saat itu hingga kini, Manager BumDesa “Naya Sejahtera” Karanggedang ini telah memprosuksi sebanyak empat kali pembuatan pupuk cair dari urin sapi dengan kapasitas 100 liter tiap pengolahannya.

 

Namun hingga saat ini, belum ada rencana matang untuk memasarkan hasilnya. Ia memperbolehkan dan menggratiskan warga Karanggedang yang berminat dan membutuhkan pupuk olahannya lantaran fasilitas didatangkan dari pemerintah. “Jika dibisniskan, saya sendiri masih terkendala dalam promosi. Kalo dari BPL sendiri sebenarnya sudah meminta untuk dikemas, tapi karena promosi lemah tadi jadi masih belum banyak peminat. Selama ini (promosinya) hanya saat rapat selapanan di kecamatan bersama Kelompok Tani. Belum ke media,” ujarnya pada Tim KKN-PPM UGM 2019 saat berkunjung ke kediamannya.

 

Menurut pengamatannya, hasil tanaman yang menggunakan pupuk cair organik menjadi lebih berkualitas, tidak mengandung bahan kimia, tanah tidak cepat rusak dan lebih irit karena bahan baku juga telah tersedia; ialah urin sapi, E4 untuk fermentasi dan tetes tebu untuk mengurangi bau tidak sedap. Selain itu, khasiat pupuk bagi tanaman bertahan lebih lama dibanding pupuk kimia dan tanaman memiliki warna yang lebih segar dan awet. Namun kelemahannya ialah di masa pertumbuhan awal. Pasalnya, pupuk organik membutuhkan proses agak lama dalam penumbuhan tanaman sehingga tidak begitu kentara perubahannya, berbeda dengan pupuk kimia.

 

Proses pembuatan juga cenderung membutuhkan waktu cukup lama, pemakaian akan maksimal kualitasnya jika sudah terproses selama kurang lebih tiga bulan. Oleh karenanya, Parimin menggunakan dua penampungan supaya proses lebih efektif. Parimin juga menjelaskan, bahwa pemakaian pupuk untuk tanaman dibawah satu atau dua minggu cukup dengan 1 liter pupuk tiap 15 liter air sebagai campurannya.

 

Saat ini, dengan keahliannya mengolah pupuk cair organic dengan bahan baku urin sapi, Parimin bergabung menjadi Penyuluh Swadaya Kecamatan Bruno. Masyarakat memang banyak yang tertarik, tapi sampai saat ini pembuat pupuk cair organik berbahan baku urin sapi selain Pak Parimin belum ada.

 

“Ke depan, karena sekarang dianjurkan pertanian organik, jadi sebaiknya memang menggunakan organik karena tidak mengganggu kesehatan. Untuk Karanggedang dan Bruno, sudah mulai sedikit-sedikit dan sudah ada yang pakai organik. Semoga ke depan lebih banyak, baik dari pupuk dan pestisida. Pemerintah sudah menganjurkan dan sudah memberi banyak sekali pembelajaran”, ujarnya sambil menyuguhkan pisang organik kuning cerah hasil dari pekarangannya.

 

 

 

Isna Nur Fajria, Mahasiswa KKN-PPM UGM 2019

 

Silakan tulis komentar dalam formulir berikut ini (Gunakan bahasa yang santun)
Formulir Komentar (Komentar baru terbit setelah disetujui Admin)
CAPTCHA Image
Isikan kode di gambar